Tawa Dipersimpangan Oleh Sahabat Wanda
Tawa Dipersimpangan
Oleh Sahabat Wanda
Sekapur Sirih
Assalamu'alaikaum Warohmatullah Wabaroqatuh
Beberapa waktu yang lalu bertempatan di aula panti sosial bira guna kota bengkulu, masa itu ketika kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru atau biasa disebut MAPABA Wanda mempersembahkan puisi yang berjudul Tawa Dipersimpangan.
Ketika itu wanda yang memang suka menulis dan membaca ini diminta oleh CO acara mapaba waktu itu yaitu Ahmad Fauzan secata lansung meminta secara lansung sahabat wanda untuk menulis puisi dan sekaligus membawakan puisi yang telah ia tuliskan tersebut. Wanda yang memang biasa berperan dibelakang layar ini awalnya agak menolak ketika diminta ketika diminta untuk membawakan puisi tersebut tapi jika untuk menuliskan puisinya beliau sama sekali tidak keberatan, Akan tetapi dari bidang acara mapaba sangat yakin wanda mampu untuk memenuhi permintaan dari acara tersebut.
Ketika itu wanda memang agak terkejut saat diminta oleh acara untuk membawakan puisi ini karena waktu memang sudah meper yaitu cuma jelang satu hari karna memang wanda sebenarnya memang cuma diminta untuk menggantikan pembawa puisi sebelumnya yang memang belum bisa hadir di acara mapaba kala itu.
Singguh menyejutkan penampilan wanda sangat luar biasan mengukau para tamu undangan, peserta mapaba dan seluruh hadirin yang hadir kala itu, dan Alhamdulillah kami haturkan pada Allah sebagaimana karna berkat inayahnyalah acara tersebut berjalan dengan sangat sukses. pada ahirnya Co acara menghaturkan terima kasih banyak kami ucapkan kepada wanda yang juga sebagai kader PMII ini yang telah ikut berperan dalam menyukseskan acara ini.
Salam Pergerakan !!!
Biografi Wanda
Foto wanda pada saat penampilan puisi tawa dipersimpangan
diacara pembukaan mapaba PMII Komisariat IAIN Bengkulu 2017.
1. Biodata Pribadi
Nama : Wanda
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Tempat/Tgl Lahir : Talang alai, 22 Juli 1997
Cita-cita : Budayawan
Hoby : Menulis
Motto : Empat Penjuru mencari saudara ulul albab (Zikir, Fiqir dan Amal Soleh)
2. Riwayat Pendidikan
SD 53 Seluma
SMP 5 Bengkulu Selatan
SMA 9 Bwngkulu Selatan
S1 IAIN Bengkulu (Dalam Proses)
3. Nama Orang Tua
Ayah : Ikram Mukti
Ibu : Tahia Lasmadensi
3. Pengalaman Organisasi
a. Pengurus Inti Osis 2012
b. Pengurus Rohis 2014
c. BPH Rayon PMII Imam Sangolo 2017-2018
d. Wakil HMPS SPI IAIN Bengkulu
Agama : Islam
Tempat/Tgl Lahir : Talang alai, 22 Juli 1997
Cita-cita : Budayawan
Hoby : Menulis
Motto : Empat Penjuru mencari saudara ulul albab (Zikir, Fiqir dan Amal Soleh)
2. Riwayat Pendidikan
SD 53 Seluma
SMP 5 Bengkulu Selatan
SMA 9 Bwngkulu Selatan
S1 IAIN Bengkulu (Dalam Proses)
3. Nama Orang Tua
Ayah : Ikram Mukti
Ibu : Tahia Lasmadensi
3. Pengalaman Organisasi
a. Pengurus Inti Osis 2012
b. Pengurus Rohis 2014
c. BPH Rayon PMII Imam Sangolo 2017-2018
d. Wakil HMPS SPI IAIN Bengkulu
Suasana Ketika wanda tampil membawakan puisi yang bertemakan tawa dipersimpangan dapat disaksikan dibawah ini :
Vidio pada saat masa penerimaan anggota baru (mapaba)
PMII Komisariat IAIN Bengkulu Tahun 2017
PMII Komisariat IAIN Bengkulu Tahun 2017
Naskah Puisi
Kemana penguasa negeri ini... Tuhan
Tak pernah nampak batang hidung
Dipelupuk mataku anak-anak bermain, berlari bertelanjang kaki.
Dimana penguasa negeri ini... Tuhan
Tunas bangsa tidak diperdulikan
Berhari-hari hanya memupuk emas dan berlian
Senyum simpul merekah dipipinya
Yang entah apakah itu sindirnya.... Ataukah keluhnya.
Tawa disimpang jalan... Mulai menggaung
Melihat rambu-rambu menghentikan
Lalu lalang kendaraan.
Ladang uang bagi mereka
Dengan koran bersandar dilengannya.
Tampa bekal ilmu pengetahuan
Karna umur tujuh tahunan
Tidak dilingkungan sekolahan
Tampa sempat mengingat Qur'an
Karna hasil jual koran
Digunakan dimeja perjudian... Bertarif ribuan.
Hah....... Semakin tertawa saja aku melihatnya
....... Dimana kader pergerakanku... Sahabat
Akankah dikau menutup mulut, disaat menyaksikan ini.
Dimana kader PMII-Ku disaat ketidak adilan surah merajai
Tunas bangsa seperti itu lakunya
Karna penguasanya tidak mengindahkan kahadirannya.
Dipersimpangan... Aku melihat mereka tegap berdiri
Memikirkan hari esok.
Melihar koran belumbanyak terjual
Karna sore telah usai...
Secara bedug berbunyi... Azan isya mengiringi.
Koranpun sudah kadaluarsa... Umurnya
Ketka tutwuri handayani menjadi dasar pijakan
Bagi para terpelajar.
Sedang mereka yang berhari-hari dipersimpangan
tidak mengerti apa itu pendidikan, Apa itu bacaan, Apa itu alif lam mim ?
Mereka hanya tahu hitungan angka domino
Dan kocokan dari sang bandar dadu.
Penulis : Ahmad Fauzan
Wallahul Muaffieq Illa Aqwamith Tharieq
Komentar
Posting Komentar